loading...
Tips Rumah Tangga

Cara Mengatasi – Menyelesaikan Konflik Rumah Tangga antara Suami Istri

Jika diberikan satu permintaan kepada sepasang suami istri, kira – kira apa yang akan diminta ya?

Apakah meminta dijauhkan dari masalah?

Atau meminta hidupnya selalu aman, damai, sentosa tanpa adanya teriakan, hanya ada cinta dalam rumah tangganya?

Atau minta selalu bahagia?

Rasa – rasanya msutahil juga untuk memiliki hidup seperti itu.

“Ada sebuah ungkapan yang mengatakan kehidupan berumah tangga ibarat mengarungi samudra”

Begitu luas dan dalam, bahkan tanpa tepi. Ditengah perjalanan mengarunginya, tentu para nahkoda dan awak kapal akan merasa riak gelombang dan angin sepoi membelai.

Tak jarang badai pun menerjang. Sama seperti pernikahan bukan? Ketika menjalani pernikahan tak jarang sepasang kekasih yang halal menemukan permasalahan hidup.

Kadang hanya masalah sepele yang bikin bete, kesel, sebel, kecewa, sampai masalah yang meremukkan hati.

Nah, ketika hal itu terjadi, kedua pasangan harus siap menghadapi.

Ada 6 tips yang bisa Anda praktikkan. Berikut tipsnya:

1. Redam Emosional dan Kemarahan Sedalam – dalamnya

Ketika menghadapi suatu masalah tak jarang emosional turut berperan.

Membuat masalah menjadi runyam jika diperturutkan.

Sebenarnya reaksi ini wajar terjadi.

Namun, ingatlah bahwa Allah tidak menyukai sikap seperti itu.

Oleh karenanya jika terjadi reaksi seperti itu jangan diledakkan.

Jangan sampai ketika berbicara penuh kemarahan. Dan jangan pula mengambil keputusan saat marah.

Ada cara yang bisa dipraktikkan untuk meredam marah sedalam – dalamnya yaitu dengan mengembalikan kepada Allah. Selain itu, baca Al-Qur an agar hati jadi tenang.

2. Kembalikan Kepada Visi

Secara umum visi keluarga muslim adalah ingin meraih surga.

Hidup berkeluarga memang bukan mencari kesenangan, tetapi untuk beribadah.

Ketika ada masalah datang, kedua pasangan harus ingat kembali visi tersebut.

Jika memang pernikahan diniatkan untuk beribadah, saat ada kesulitan maka akan dihadapi dengan penuh kesabaran, bukan dengan kemarahan.

Apabila hal itu bisa dilakukan maka akan bernilai kebaikan.

Bukankah apapun yang dilakukan oleh orang yang beriman selalu baik.

Jika berada dalam kesenangan, ia akan merasa bersyukur dan jika ia berada dalam kesulitan, jika ia bersabar.

Oleh karenanya, Allah menjanjikan pahala yang besar baginya.

Selain itu, sikap demikian akan membuat kita memiliki emosi, yang layak terkontrol, penuh welas, tidak meledak –ledak, dan tidak rekoso juga

3. Laksanakan Kesepakatan Konflik

Ada hal yang harus dilakukan sebelum terjadi konflik yang membuat kesepakatan itu bisa dipakai ketika benar – benar terjadi masalah yang tidak bisa diselesaikan bersama, yaitu dengan menunjuk orang ketiga yang dipercaya.

Orang ketiga ini memiliki peran memberikan solusi, dalam islam juga disebut sebagai walijah, orang yang dipercaya mampu membuat mereka berdua bersatu.

Istilah untuk membuat kesepakatan sebelum konflik adalah ‘sedia payung sebelum hujan’. Untuk berjaga saja.

Walijah yang ditunjuk bisa orang tua yang arif, paman yang lebih mumpuni, ustadz dengan wawasan agama yang luas, dsb

4. Jangan Berpikir Hitam dan Putih

Pernah mendengar seseorang berteriak ke orang lain dengan menyalahkan?

Atau pernah merasakan diri sendiri dan mengatakan pada dirinya bahwa’aku yang benar, dan dia yang salah’?

Ketika ada orang bertikai, masing – masing tidak mau kalah, maka yang berikutnya terjadi adalah tidak pernah ada penyelesaian yang tulus.

Lebih baiknya dicari win win solution.

Caranya dengan tidak menyalahkan salah satu pihak.

Sebab, setiap ada kesalahan, pasangan juga punya andil didalamnya.

Di sudut pandang lain, suami juga bisa jadi benar. Daripada sibuk menyalahkan, bukankah lebih baik dipecahkan bersama?

5. Selesaikan Berdua

Kebutuhan perempuan adalah bercerita.

Rasanya susah untuk mengontrol bicara.

Apalagi ada beban yang menghimpit hati, biasanya dengan bercerita hati akan merasa plong, cerita ke tetangga, ngobrol sore yang kemudian keceplosan. Ngobrol dengan teman kerja, menceritakan ke orang tua, dsb.

Perlu digarisbawahi bahwa menceritakan masalah ke orang lain tidak akan memberikan solusi kecuali cerita ke walijah.

Meskipun begitu kalau masih bisa dipecahkan berdua, lebih baik berdua dulu. Diobrolkan bersama, dicari penyelesaiannya. Jika memang benar – benar tidak bisa dipecahkan berdua, baru ke pihak lain.

6. Jangan Tampakkan Didepan Anak

Kecewa, marah, tidak terima dengan perlakuan pasangan kemudian berantem kadang memang tidak bisa dikendalikan.

Jika demikian, maka jangan pernah menampakkan di depan anak.

Biarlah anak tahu bahwa orang tuanya hidup dengan penuh kasih sayang dan cinta.

Tidak pernah mendengar teriakan satu dengan yang lainnya.

Apalagi sampai ke perlakuan fisik: Menampar. Apabila ditampakkan, pengaruhnya akan sangat buruk karena menyebabkan trauma pada anak.

Ada seorang anak yang karena masa kecilnya melihat orang tua selalu bertengkar trauma menikah. Lebih baik, jika sampai pada titik ini debat lakukan saja di kamar.

Masalah bukanlah hal yang disukai oleh siapapun, tetapi justru dengan masalah kita bisa tumbuh lebih baik.

Hidup denhgan masalah, bisa membuat kita lebih memahami pasangan dengan lebih baik lagi, bahasa indahnya mendewasa bersama.

Bahkan ada yang bilang, masalah adalah bumbu pernikahan. Tanpa masalah, rasanya seperti sayur tanpa garam. Kurang enak, kurang lezat, kurang nendang.

Lalu kenapa kita tidak menikmatinya saja?

Toh, masalah yang seperti badai, apapun jenisnya juga akan berlalu pada waktunya.

Hingga pada akhirnya masalah yanng mampu dikelola dengan baik akan merekatkan cinta pasangan.

Membuat lebih dekat dengan surga. Surga dunia yang diciptakan bersama pasangan dan surga akhirat yang menunggu kita.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *