loading...
Uncategorised

Mengelola, Melatih, dan Mengarahkan Emosi Anak

Ayah bunda pernah menonton film animasi anak berjudul “Inside Out?” menonton film itu mengajak kita untuk lebih mengenal transisi emosi anak. Perubahan emosi. Sosok tokoh Joy, Sadness, Disgust, Fear dan Anger hidup di kepala Riley. Riley adalah tokoh yang berusaha selalu dibuat senang oleh kelima emosi itu. Akan tetapi, ternyata perubahanemosi setiap waktu kadang membuat Riley tidak senang.
Ayah bunda, tokoh Riley dalam film tersebut seperti anak kita. Tidak usah terlalu jauh, seperti kita juga. Kadang di satu waktukita sangat bahagia, tetapi juga ketakutan. Di lain waktu kita sedih dan juga marah. Bahkan mungkin mengalami emosi yang lebih kompleks dari lima emosi utama diatas. Namun, PR terbesar ayah bunda adalah mengajari anak – anak mengenal emosi. Selain dikenalkan, emnurut Dwi Handayani, S.Pd. perlu dilanjutkan dengan mengeloloa, melatih dan mengarahkan emosi.
Emosi negative dan emosi positif
Anak – anak harus diajari mengelola emosi sejak dini, karena sebagai manusia emosi adalah fitrah yang dimiliki oleh siapapun juga. Emosi tidak selalu negative, bahkan apabila dikelola dengan baik akan menjadi pendorong kekuatan bagi mereka. Emosi adalah dorongan dari dalam diri manusia yang apabila diolah dan diarahkan dengan baik akan menjadi penyebab sifat – sifat baik. Missal seorang anak memukul drum pada saat lomba marching band dan seorang anak yang memukul ibunya karena marah. Kedua kondisi anak tersebut sama – sama ada emosi. Akan tetapi, yang satu adalah emosi yang terlatih dan positif sedamgkan yang satunya emosi negative.
Pengeloaan emosi bias mengakibatkan dampak baik bagi perkembangan anak. Hal ini membutuhkan peran aktif dari orang tua agar ikut andil. Sebab bagaimanapun juga, hakikat pengelolaan emosi dalam mendidik anak adalah tugas orang tua. Satu hal yang penting adalah bahwa orang tua memahami bahwa pada diri anak – anak mereka ada emosi yang harus dikelola, dilatih dan diarahkan.
Mendidik anak agar dapat mengelola emosinya adalah dengan memahamkan ke anak tentang emosi, bahwa dalam diri kita emoisi baik dan buruk. Emosi yang baik akan mendorong kita berprestasi ulet dan tekun, sedangkan emosi yang kurang baik akan membuat kita cepat marah, tersinggung, mengamuk bahkan menyerang orang lain yang merugikan diri kita sendiri. Pada anak – anak balita akan kita jumpai keadaan yang merupakan letupan emosi, misalnya saat bermain bersama teman akan terjadi rebutan mainan yang menimbulkan tangis dan marah. Disinilah peran orang tua dimulai. Arahkan anak – anak untuk bergantian dsb.
Pengeloaan emosi yang baik akan menumbuhkan banyak sikap diantaranya, senang berbagi, menghargai teman, bersaba, menunggu ketika harus bergantian. Dan masih banyak lagi. Sedangkan hal negative yang dialami apabila tidak diajari mengelola emosi dengan baik adalah anak akan susah menghadapi lingkungan dan teman – teman bergaulnya. Karena dia akan lebih mudah terbawa emosi negative berupa kemarahan dan tidak menerima dengan biak rasa kecewa yang muncul pada dirinya.
Tips – tips mengelola emosi anak
Kenalkan kepada anak hal – hal yang terkait dengan dengan emosi yang mungkin muncul pada dirinya, seperti marah, kecewa, sedih, bahagia, gembira, dsb. Ketika ada anak lain yang menangis karena tidak dibelikan mainan, sehingga anak tersebut meraung – raung, diskusikan dengan anak tentang kejadian itu.
Contoh:
“Mengapa tadi temanmuy menangis?” atau “Kasihan ngga melihat temanmu menangis? Bagaimana jika itu terjadi pada kamu?” Pertanyan – pertanyaan tersebut akan memacu anak menganalisis, belajar memahami emosi dari orang lain. Ajak anak berempati ketika melihat orang lain sedang sedih ataupun bergembira, mengukurkan bantuan pada teman yang kesulitan, dan mengucapkan selamat untuk teman yang berprestasi.
Contoh:
“Adik, teman adik itu tadi habis jatuh. Apa yang akan adik lakukan?” missal mendapat si anak tidak segera menjawab, pancing dengan pertanyaan lain. “Bingung ya? Gini deh, kalau adik jatuh seperti temanmu itu, apa yang kamu inginkan dari orang lain?”
– Apabila anak mengalami sendiri kecewa dan marah yang sangat, dekati dan jangan disalahkan, tenangkan dengan memeluknya, memberikan minum kemudian menghiburnya, ajak dia mencari solusi atas rasa marah dan kecewa itu.
– Mmembacakan buku cerita, menggambar, mewarnai, dan menyanyikan lagu bias membuat anak lebih stabil.
– Hindarkan anak dari tontonan berbagai media yang bias membawa anak pada emosi – emosi negative seperti mudah marah dan temperamental.
Mengajari anak untuk mengenal emosi dengan baik akan memudahkan ayah bunda untuk tahu apa yang anak butuhkan. Apakah ia ingin marah, menangis, teriak, dll. Orang tua akan paham’oh anak saya sedang kelebihan energy, jadi biarkan ia marah’. Akan lebih baik lagi jika diberikan sarana untuk mengekspresikan emosi mereka, karena biasanya anak belum terlalu bias mengelola seperti orang dewasa. Perlu proses untuk menuju emosi stabil.
Untuk menstabilkan emosi, seorang ibu dengan 5 orang anak pernah bercerita kalau di rumah mereka tersedia trampoline. Ketika anak sedang marah, sedang kelebihan energy seperti menjahili saudaranya maka diminta masuk ke ruangan itu. Mereka akan meloncat – loncat disana, melepaskan emosi. Kalau mereka sudah selesai baru boleh keluar. Otomatis, sudah ada tugas setelah masuk ruangan tersebut. Misalnya membnatu pekerjaan rumah; mencuci piring, menyapu, mengepel, masak, dsb. Alhasil dengan cara itulah, anak – anak jadi terkendali. Tentunya apapun emosi anak berilah ruang bagi mereka untuk memahami, kemudian berikan konsekuensi seperti kesepakatan ya ayah bunda. Selamat menjadi ayah bunda yang super bagi buah hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *