loading...
Tips Rumah Tangga

Tips Cara Membahagiakan Pacar – Suami Istri dalam Menghadapi Badai Rumah Tangga

Ketika suhu udara di luar terlalu terik atau ketika kehidupan di luar terasa menyesakkan dada. Kembali pulang ke rumah adalah pilihan tepat. Apalagi saat pulang ada sambutan hangat menanti. Rasanya semua yang begitu tebal menggelayut musnah. Hilang bersama segelas teh hangat, beberapa potong singkong goreng, dan selarit senyum manis. Namun, ternyata di kehidupan nyata tidak semua setuju rumah tangga bisa senyaman itu. Bahkan, puncaknya mengganggap bahwa kembali pulang ke rumah seperti kembali mendapat tambahan masalah.

Kenyataan itu menjadi ironi menakutkan bagi pasangan yang tidak paham satu dengan yang lain.

Pikiran bahwa setelah menikah dan berumah tangga maka bim salabim langsung bahagia.

Di depan dua sejoli terhampar surga, kesenangan tanpa terselip duka, dan tidak akan ada hal yang menyedihkan lainnya adalah konsep yang salah.

Terlena dengan angan – angan seperti itu mengakibatkan rasa kecewa bertumpuk.

Sebab ada yang belum dipenuhi yakni saling memahami perbedaan antara kepribadian istri dan kepribadian suami.

Ada syarat utama yang harus dipenuhi antara suami dan istri yaitu sikap taaruf, tafahum, dan tafakul

Mengapa syarat yang dipenuhi harus suami dan istri karena untuk membangun keluarga SAMARA (Sakinah Ma Waddah wa Rahmah) diperlukan kerjasama kedua belah pihak.

Rumah tangga memang bukan ditujukan satu pihak saja yang berjuang.

Membangun keluarga perlu kerjasama.

Kalau hanya satu pihak maka dapat dipastikan ada pihak lain yang bakal tidak bahagia.

Bukan hanya pihak istri saja atau suami saja.

Keduanya perlu perlu menerapkan tiga sikap tersebut yakni saling taaruf, tafahum dan tafakul seperti penetap pilar ukhuwah oleh Imam Hasan Albana

1. Taaruf

Taaruf adalah saling mengenal dan berkasih sayang.

Jika keduanya mengaji ilmu agama dan melalui tahap perjodohan.

Pihak suami dan istri tentu belum begitu mengenal, maka masing – masing harus menggali informasi.

Pada tahap ini, suami istri harus bersikap terus terang tentang siapa dirinya.

Kemudian menghayati makna sejatinya orang yang kini menjadi pasangan, berusaha bertindak penuh kasih, dan selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah.

Ketika kata sah diucapkan usai ijab qabul, maka pasangan tersebut harus melakukan taaruf lagi.

Lebih detail, lebih terperinci, dan mendalam.

Di tahap ini pula sebaiknya suami maupun suami menjabarkan keinginannya.

Selama mengarungi biduk rumah tangga, apa yang harus dilakukan, apa yang harus disukai, apa yang diharapkan dari pasangan.

Ada sebuah cerita pasangan suami istri yang baru menikah. Mereka berangkat pengajian Ahad Pagi MTA bersama.

Namun, berhubung tempat duduk dibedakan, mereka pun terpisah.

Tiba – tiba saat pulang, sang suami menunggu di luar gedung sembari celingak – celinguk.

Pada masa itu HP masih menjadi sesuatu yang mahal .

Saat menunggu ia sangat was – was.

Pasalnya dia lupa wajah sang istri. Akhirnya diputuskan ia kembali dan membuat pengumuman.

Parahnya lagi, ia lupa nama istri. Pengumuman dibuat dengan menyebutkan kata panggilan dan namanya.

“Panggilan untuk ibu Akbar dari Ngawi, ditunggu suaminya di luar gedung”

2. Tafahum

Tafahum adalah saling memahami.

Suami istri merupakan makhluk yang berbeda.

Mulai dari cara berpikir, menanggapi sesuatu, dan menyelesaikan masalah.

Jika keduanya tidak ada upaya saling memahami, maka dapat memicu kekecewaan.

Tidak hanya sampai disitu saja, kekecewaan akan bermuara pada streess, tekanan batin, rumah tangga tidak tentram hingga bermuara tidak nyaman dan tidak bahagia.

Sejatinya, sebuah kebahagian bisa diciptkan dan diupayakan.

Hal yang mendasari rumah tangga adalah sikap saling memahami.

Paham bukan hanya sekedar kenal nama, siapa saja anggota keluarganya, alamat rumah, dimana.

Namun, juga mengenal kepribadiannya serinci mungkin.

Ada suatu kisah, bertahun – tahun suami hidup dengan istrinya, memberikan keperluan rumah tangga, tidak pernah berbuat kasar, dan selalu menyayangi.

Ia merasa sudah membahagiakan istrinya dengan segala yang telah diberikan.

Namun, seiring denghan bertambahnya usia pernikahan, istri merasa hampa, tidak merasa istimewa di mata suami, dan merasa tidak dibahagiakan.

Ternyata istri merasakan seperti itu bukan karena suami kurang dalam mencukupi kebutuhan.

Akan tetapi, bahasa cinta yang diinginkan istri berbeda.

Istri lebih senang dpeluk, ditatap ketika berbicara, dan suka bercanda.

Namun, oleh suami hal semacam itu tidak dilakukan, sebab yang ia pahami asalkan kebutuhan tercukupi maka pasangan sudah bahagia.

Oleh karenanya, bahasa cinta pasangan harus dipahami.

Intinya, apapun yang ingin dipahami pasangan sebagai bahasa cinta wajib dikomunikasikan.

3. Tafakul

Tafakul adalah saling membantu, menanggung beban, dan melengkapi

Untuk bisa lebih langgeng maka pasangan suami istri harus saling mengisi, sabar, dan selalu membantu.

Bahkan tidak saling menunjuk .

Tugasmu sebagai istri adalah memasak, mencuci, bersih – bersih rumah, mengurus anak.

Tugas suami hanyalah bekerja, cari uang. Bukan, seperti itu.

Pembagian terkotak –kotak. Padahal hidup berumah tangga tidak bisa pisah – pisah dengan kerja seperti itu.

Keduanya harus bisa saling membantu, meski si suami hanya menyapu lantai, menggantikan popok bayi.

Ada sikap saling membantu.

Jika terkotak – kotak, ada batas istri itu – itu – itu, tugas suami ini ini ini, maka bisa disimpulkan bahwa bentuk keluarga tersebut tidak sehat.

Istri pasti akan lebih bahagia jika suaminya membantu.

Melihat istrinya masih berkutat dengan masakan dan ia melihat lantai kotor, sigap menyapu.

Istrinya kepayahan menjemur, ia denga ringannya ikut menjemur sembari bercerita banyak hal , tersenyum dan ramah lebih banyak lagi.

Jika dipihak suami sedang terlilit hutang istri mulai mengatur keuangan, membantu sebisanya.

Bukannya malah menuntut ini itu.

Ia akan membantu suaminya, menanggung beban bersama.

Sebab keduanya memang tercipta untuk Saling melengkapi.

Berumah tangga memang perlu dipersiapkan, terutama mempersiapkan diri dengan ilmu.

Bukankah berumah tangga sama seperti ketika sekolah?

Perlu belajar untuk naik kelas.

Berumah tangga juga harus dipelajati, bahkan menjadi pemelajaran sepanjang hayat dan memang hal itu harus dipersiapkan dengan matang.

Berumah tangga harus punya ilmu.

Sikap saling taaruf, tafahum, dan tafakul memang bukan instan tapi melalui proses.

Meskipun sudah menjalani pernikahan berpuluh tahun, tetap saja ada hal – hal yang terus dipelajari.

Hal itu tentu tidak diberikan pada satu orang saja, tetap kedua belah pihak, suami dan istri.

Sebab pernikahan yang sehat adalah pernikahan yang saling membahagiakan.

Membahagiakan adalah konsep bersama. Sebab semua berhak menikmati kebahagiaan.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *